10.57 -
Cerpen
No comments
Cerpen
No comments
Perpisahan
![]() |
| ilustrasi |
Langit
diatas Yogyakarta bak kanvas raksasa merah tembaga. Beberapa gumpalan warna
putih dari awan yang bergerak perlahan bercampur dengan biru cakrawala dilatar
belakang, memperindah bauran warna yang tercipta.
Sementara
itu, Rendi sedang mengetik dilaptopnya dengan ditemani segelas susu hangat di
Kedai Koffie. Mungkin dia sedang menunggu seorang perempuan bernama Rini yang
belakangan ini sering dibicarakan sebagai pacarnya.
Kedai
Koffie adalah tempat favorit para pelajar dan mahasiswa Yogya seperti halnya
kafe-kafe lain diberbagai tempat di Yogyakarta.
Perempatan
Condong Catur dan Jalan Gejaya, Kedai Koffie terletak disamping kiri toko buku
Kharisma. Mulai dari meja-meja kayu, lantai papan, kursi bambu dan tempat
lesehan memberikan kesan sederhana, cocok dengan selera mahasiswa Yogya yang
tak begitu berminat nongkrong sambil minum kopi di kafe ber-setting mewah.
Belakangan
ini, Rendi terlihat sering menyendiri, berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Tak
lama, ponsel Rendi berbunyi. Nada dering
handphone itu menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang. Rendi mengambil
ponsel dikantongnya dan menempatkan ditelinga kirinya.
“Hallo
ada apa?” Rendi membuka percakapan dalam telepon itu.
“Kamu
itu egois ya! Aku udah nunggu ber-jam-jam disini. Tapi kamu nggak datang juga.”
Sahut Rendi dengan nada keras seperti hendak marah pada seseorang dalam telepon
itu.
Rendi
memasukan kembali handphone nya kedalam kantong. Lalu dia mematikan laptopnya
dan memasukannya kedalam tas dan bergegas keluar dari Kedai.
Entah
apa yang dibicarakan orang didalam telepon itu hingga membuat Rini hendak marah
dan keluar dari Kedai Koffie.
***
Malam
harinya, ketika Rendi sedang membaca sebuah novel, ponselnya kembali berbunyi.
Rendi menyimpan novel yang dipegangnya dimeja dan mengambil ponselnya.
“Hallo?”
Rendi mengangkat teleponnya.
“Rendi
maaf kan aku untuk masalah tadi sore. Aku di Malioboro. Kamu bisa kesini ngga?”
“bisa
kok, yaudah tungguin ya”
Lekas
Rendi memakai jaket yang digantung dibelakang pintu kamarnya, mengganti celananya
dengan jeans, dan memakai sepatu.
“Mau
kemana lo malem-malem gini?” tanya Rangga. Rangga adalah teman kos Rendi
sekaligus sahabat yang selalu menemaninya dalam suka maupun duka. Dan memang
sudah sepantasnya sahabat seperti itu.
“Mau
ke Malioboro, mau nemuin Rini” jawabnya singkat.
Pukul
setengah dua belas malam. Rendi memacu motor sport hitamnya, menembus angin dini hari. Jalan Kaliurang cukup
sepi pada hampir tengah malam seperti ini, hanya menyisakan satu-dua kendaraan
yang melintas sesekali dengan kecepatan yang cukup tinggi.
***
“Ada
apa malam-malam menyuruhku kesini?” tanya Rendi
Dini
hari di Malioboro, tidak ramai, tetapi terlalu sepi. Masih ada orang-orang
duduk dibangku taman dihalaman depan benteng Vredeburg. Cahaya kuning keemasan
dari lampu taman yang berdiri berjejer menghiasi jalan memberi efek tersendiri,
seperti memancarkan kehangatan kecil untuk malam di Yogya yang sedang dingin.
“Kamu
masih sayang sama Aku?” Rini balik tanya
“Masih
sayang lah. Kalo nggak sayang, mana mungkin aku mempertahankan hubungan kita?”
“Aku
juga sayang sama kamu. Tapi....”
“Tapi
kenapa, Rin?”
“Aku
nggak bisa mempertahankan hubungan ini, Ndi”
“Kenapa?”
“Banyak
yang bilang, kalo aku berubah semenjak sama kamu. Dan teman-temanku kecewa sama
perubahanku saat ini.” Rini menghela nafas “Aku mau seperti aku yang dulu. Aku
pengen sendiri dulu”
Rendi
menatap Rini tajam “Aku merasa, tidak pernah merubah hidup dan kehidupan kamu,
Rin”
“Itu
memang betul, Ndi. Jujur, aku berat buat bilang seperti ini. Sebenernya, aku
nggak mau. Tapi mau gimana lagi?”
“Kalo
begitu, lantas kenapa temen-temen kamu berkata seperti itu? Dan mengapa kamu
mengikuti apa yang dikehendaki temen kamu?”
Sedikit
demi sedikit orang-orang dihalaman depan benteng Vredeburg berpergian. Dan
hanya tersisa Rendi dengan Rini dan lalu lalang kendaraan pun sangat jarang.
“Aku
bener-bener minta maaf. Aku masih sayang sama kamu. Tapi untuk sementara ini,
aku pengen sendiri dulu, Ndi”
Rendi
menghela nafas dalam-dalam seperti hendak menahan amarahnya “yasudah lah, kalau
memang ini jalan terbaik menurut kamu. Aku akan terima itu, Rin”
Rini
tampak sedang menahan air mata yang sudah tak bisa ditampung dimatanya. Hingga
akhirnya, dia meneteska satu per satu air mata yang terkena pipinya.
“Aku
sudah memaafkan kamu Rini” Rendi seraya menghapus air mata dipipi Rini. “Tapi
ingat! Aku sangat kecewa dengan kejadian malam ini”
“Aku
ngerti kalau kamu bener-bener kecewa. Dan aku ngga bakal bisa merubah rasa
kecewa kamu menjadi rasa sayang lagi”
Tanpa
sadar, Rendi memeluk Rini dengan sangat erat. Mereka masih sayang satu sama
lain. Tapi apalah boleh buat jika cinta sudah tidak mempersatukan mereka.
Ke-egoisan yang dimiliki manusia kadang bisa berpengaruh bagi kebahagiaan orang
lain”
Perlahan,
Rendi melepaskan pelukan yang mungkin menjadi pelukan terakhirnya.
“Sudah
larut malam. Mau aku antar pulau, Rin?”
“Tidak
usah, Rendi. Terimakasih. Tapi sebaiknya kamu pulang sendiri saja” Sahut Rini
“Aku akan dijemput ko”
“Yasudah
aku pulang duluan ya. Terimakasih atas cinta yang telah kamu berikan kepadaku
selama 36 hari ini”
“Iya,
Ren. Aku minta maaf ya”
Keheningan
malam itu dipecahkan oleh obrolan mereka berdua di Malioboro.
Rendi
menaiki motornya dan menghidupkan lalu pulang kerumahnya. Sementara, Rini
menunggu supir yang akan menjemputnya ditengah malam di sudut kota Yogyakarta.
Meski
luka dan rasa kecewa begitu besar, rasa sayang yang itu masih utuh. Terlalu
dalam ia merasa terlukai, tetapi terlalu besar arti perempuan itu baginya untuk
disingkirkan. Terlampau banyak hal manis yang mereka lalui bersama untuk
dikubur dan dilupakan begitu saja. Semakin dalam sakit hati, semakin besar
cinta itu.

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih ingin mengkritik postingan saya.
Kritik dan Saran anda sangat kami butuhkan demi kemajuan situs saya kedepannya.
Masukan nama anda, dan kritiklah!