Jumat, 25 Oktober 2013

Perpisahan

ilustrasi

Langit diatas Yogyakarta bak kanvas raksasa merah tembaga. Beberapa gumpalan warna putih dari awan yang bergerak perlahan bercampur dengan biru cakrawala dilatar belakang, memperindah bauran warna yang tercipta.
Sementara itu, Rendi sedang mengetik dilaptopnya dengan ditemani segelas susu hangat di Kedai Koffie. Mungkin dia sedang menunggu seorang perempuan bernama Rini yang belakangan ini sering dibicarakan sebagai pacarnya.
Kedai Koffie adalah tempat favorit para pelajar dan mahasiswa Yogya seperti halnya kafe-kafe lain diberbagai tempat di Yogyakarta.
Perempatan Condong Catur dan Jalan Gejaya, Kedai Koffie terletak disamping kiri toko buku Kharisma. Mulai dari meja-meja kayu, lantai papan, kursi bambu dan tempat lesehan memberikan kesan sederhana, cocok dengan selera mahasiswa Yogya yang tak begitu berminat nongkrong sambil minum kopi di kafe ber-setting mewah.
Belakangan ini, Rendi terlihat sering menyendiri, berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Tak lama, ponsel Rendi  berbunyi. Nada dering handphone itu menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang. Rendi mengambil ponsel dikantongnya dan menempatkan ditelinga kirinya.
“Hallo ada apa?” Rendi membuka percakapan dalam telepon itu.
“Kamu itu egois ya! Aku udah nunggu ber-jam-jam disini. Tapi kamu nggak datang juga.” Sahut Rendi dengan nada keras seperti hendak marah pada seseorang dalam telepon itu.
Rendi memasukan kembali handphone nya kedalam kantong. Lalu dia mematikan laptopnya dan memasukannya kedalam tas dan bergegas keluar dari Kedai.
Entah apa yang dibicarakan orang didalam telepon itu hingga membuat Rini hendak marah dan keluar dari Kedai Koffie.
***
Malam harinya, ketika Rendi sedang membaca sebuah novel, ponselnya kembali berbunyi. Rendi menyimpan novel yang dipegangnya dimeja dan mengambil ponselnya.
“Hallo?” Rendi mengangkat teleponnya.
“Rendi maaf kan aku untuk masalah tadi sore. Aku di Malioboro. Kamu bisa kesini ngga?”
“bisa kok, yaudah tungguin ya”
Lekas Rendi memakai jaket yang digantung dibelakang pintu kamarnya, mengganti celananya dengan jeans, dan memakai sepatu.
“Mau kemana lo malem-malem gini?” tanya Rangga. Rangga adalah teman kos Rendi sekaligus sahabat yang selalu menemaninya dalam suka maupun duka. Dan memang sudah sepantasnya sahabat seperti itu.
“Mau ke Malioboro, mau nemuin Rini” jawabnya singkat.
Pukul setengah dua belas malam. Rendi memacu motor sport hitamnya, menembus angin dini hari. Jalan Kaliurang cukup sepi pada hampir tengah malam seperti ini, hanya menyisakan satu-dua kendaraan yang melintas sesekali dengan kecepatan yang cukup tinggi.
***
“Ada apa malam-malam menyuruhku kesini?” tanya Rendi
Dini hari di Malioboro, tidak ramai, tetapi terlalu sepi. Masih ada orang-orang duduk dibangku taman dihalaman depan benteng Vredeburg. Cahaya kuning keemasan dari lampu taman yang berdiri berjejer menghiasi jalan memberi efek tersendiri, seperti memancarkan kehangatan kecil untuk malam di Yogya yang sedang dingin.
“Kamu masih sayang sama Aku?” Rini balik tanya
“Masih sayang lah. Kalo nggak sayang, mana mungkin aku mempertahankan hubungan kita?”
“Aku juga sayang sama kamu. Tapi....”
“Tapi kenapa, Rin?”
“Aku nggak bisa mempertahankan hubungan ini, Ndi”
“Kenapa?”
“Banyak yang bilang, kalo aku berubah semenjak sama kamu. Dan teman-temanku kecewa sama perubahanku saat ini.” Rini menghela nafas “Aku mau seperti aku yang dulu. Aku pengen sendiri dulu”
Rendi menatap Rini tajam “Aku merasa, tidak pernah merubah hidup dan kehidupan kamu, Rin”
“Itu memang betul, Ndi. Jujur, aku berat buat bilang seperti ini. Sebenernya, aku nggak mau. Tapi mau gimana lagi?”
“Kalo begitu, lantas kenapa temen-temen kamu berkata seperti itu? Dan mengapa kamu mengikuti apa yang dikehendaki temen kamu?”
Sedikit demi sedikit orang-orang dihalaman depan benteng Vredeburg berpergian. Dan hanya tersisa Rendi dengan Rini dan lalu lalang kendaraan pun sangat jarang.
“Aku bener-bener minta maaf. Aku masih sayang sama kamu. Tapi untuk sementara ini, aku pengen sendiri dulu, Ndi”
Rendi menghela nafas dalam-dalam seperti hendak menahan amarahnya “yasudah lah, kalau memang ini jalan terbaik menurut kamu. Aku akan terima itu, Rin”
Rini tampak sedang menahan air mata yang sudah tak bisa ditampung dimatanya. Hingga akhirnya, dia meneteska satu per satu air mata yang terkena pipinya.
“Aku sudah memaafkan kamu Rini” Rendi seraya menghapus air mata dipipi Rini. “Tapi ingat! Aku sangat kecewa dengan kejadian malam ini”
“Aku ngerti kalau kamu bener-bener kecewa. Dan aku ngga bakal bisa merubah rasa kecewa kamu menjadi rasa sayang lagi”
Tanpa sadar, Rendi memeluk Rini dengan sangat erat. Mereka masih sayang satu sama lain. Tapi apalah boleh buat jika cinta sudah tidak mempersatukan mereka. Ke-egoisan yang dimiliki manusia kadang bisa berpengaruh bagi kebahagiaan orang lain”
Perlahan, Rendi melepaskan pelukan yang mungkin menjadi pelukan terakhirnya.
“Sudah larut malam. Mau aku antar pulau, Rin?”
“Tidak usah, Rendi. Terimakasih. Tapi sebaiknya kamu pulang sendiri saja” Sahut Rini “Aku akan dijemput ko”
“Yasudah aku pulang duluan ya. Terimakasih atas cinta yang telah kamu berikan kepadaku selama 36 hari ini”
“Iya, Ren. Aku minta maaf ya”
Keheningan malam itu dipecahkan oleh obrolan mereka berdua di Malioboro.
Rendi menaiki motornya dan menghidupkan lalu pulang kerumahnya. Sementara, Rini menunggu supir yang akan menjemputnya ditengah malam di sudut kota Yogyakarta.

Meski luka dan rasa kecewa begitu besar, rasa sayang yang itu masih utuh. Terlalu dalam ia merasa terlukai, tetapi terlalu besar arti perempuan itu baginya untuk disingkirkan. Terlampau banyak hal manis yang mereka lalui bersama untuk dikubur dan dilupakan begitu saja. Semakin dalam sakit hati, semakin besar cinta itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih ingin mengkritik postingan saya.

Kritik dan Saran anda sangat kami butuhkan demi kemajuan situs saya kedepannya.

Masukan nama anda, dan kritiklah!