Kamis, 23 Januari 2014

MC Ku Sayang, MC Ku Malang

ilustrasi



'Eh, Bot. Jadi MC itu asik loh!' Rina ngomong dengan serius pada jam istirahat sekolah.
'Bot' adalah nama panggilan gue. Kepanjangan dari gembrot. Bukan, bukan gembrot. Tapi Ebot. Ya, Ebot. Banyak orang-orang yang penasaran, kenapa nama asli Febri dipanggil Ebot. Emang engga nyambung. Gue gak tahu secara pasti apa itu arti dari 'Ebot'.
Setelah gue meditasi di beberapa gunung. Beberapa teori muncul: 1) Karena gue dulu gembrot. Teori ini salah, karena dari dulu sampe sekarang gue masih kaya tiang listrik berjalan. 2) Karena gue jelek. Teori ini benar, karena gue emang dilahirkan dengan muka rusak, body yang tipis tapi agak sedikit seksi, dan otak yang goblok.
Saat itu, gue kelas 9 SMP. Masa-masa dimana gue masih pengin ngikutin apa kata orang. Rina adalah temen sekelas gue. Dia duduk dibelakang bangku gue, waktu itu.
'Emang apa enaknya?' Gue nanya.
'Banyak serunya. Kita bisa bercanda sama audience. Bahkan kalo lo ganteng, lo bakal punya banyak fans' jelas Rina.
Gue langsung berpikir. Nanti kalo gue jadi MC beneran. Gue gak bakal punya fans. Itu karena satu hal: gue jelek.
Satu-satunya modal gue adalah muka. Diliat dari muka aja gue udah jelek (tapi belum tentu dalemannya, loh).
Pas gue nge-MC nanti. Gue bakal bilang, 'selamat malam semuanya!'
'Turun-turun...' seru penonton semua.
Semua pasti kacau kalo gue nge-MC.
'Tapi, gue kan jelek, Rin?' Gue pasrah.
'Kalo itu anak bayi juga tau! Tapi, apa salahnya dicoba?'
'Uuh' gue gak bisa jawab.
'Lo harus coba!'
'Iya'
'Lo harus coba!'
'Iye'
'Lo harus coba, goblok!'
'Iyeeeee!'
***
Selang beberapa bulan. Sepupu gue mau ulang tahun. Umurnya gak tua-tua amat, sih. Tahun ini adalah ke-5 tahun.
'Kamu jadi MC di ulang tahun Rio, yak!' Seru Tante gue.
'Uuh. Aku kan gak bisa nge-MC, Tan'
'Udah. Gak apa-apa. Dicoba dulu'
Gue pasrah.
Gue cuma bisa mencoba. Tiba-tiba gue keinget omongan Rina beberapa bulan yang lalu. 'Gue emang harus coba!' Seru gue dalem hati.
Beberapa hari menuju ke acara. Gue jadi sering latihan di kamar. Biasanya gue latihan di depan kaca sambil berdiri dengan membawa selembar kertas seperti MC di tv-tv. Gue lebih menekan ke latihan ngomong.
Dari mulai kata-kata yang sederhana 'Hallo adek-adek. Mari kita bernyanyi selamat ulang tahun untuk Rio' sampe yang bergaya host di Silet. 'Anak-anak! Ayo kita bernyanyi dan kupas si Rio secara tajam. Setajam....... bedog!'
Shit! Gue emang gak bakat jadi MC.
Setelah gue latihan cara ngomong. Gue mikirin kostum. Ya, ini yang menurut gue bagian tersulit. Gue harus bergaya seperti apa nanti.
Gue coba telepon Ina, temen gue yang ahli tentang fashion.
'Ina, gue mau jadi MC. Tapi gue ga tau harus pake baju apaan' gue cemas.
'Hah? Lo MC? Sejak kapan?' Jawab Ina, diseberang telepon.
'Udah deh. Sejak tadi' jawab gue singkat.
'MC dimana lo? Di acara festival? Pagelaran seni? Gue nonton dong!'
'Di acara ulang tahun sepupu gue ke- 5 tahun'
Gubrak! Ina diem.
Beberapa detik, Ina ngomong 'Goblok! Gue kira acara besar. Taunya cuma.......' Ina berenti ngomong.
'Oke,oke. Gue harus pake baju apa di acara itu?' gue samber omongannya.
'Lo pake baju badut!'
'HAH?'
Tut....Tut....Tut....
Telepon mati.
Gue coba telepon lagi si Ina. Tapi malah engga dijawab.
***
Beberapa hari kemudian. Acara yang dinanti-nanti pun dimulai. Gue jadi MC yang pertama dan (mungkin) yang terakhir dalam sejarah hidup gue.
Karena engga yakin sama omongan Ina di telepon beberapa hari yang lalu. Gue yakinkan untuk tidak memakai kostum badut. Selain karena repot dan  biaya nyewa mahal. Juga karena gue udah punya muka kaya badut.  
Hari ini gue pake kemeja kotak-kotak bergaris hitam, celana item bahan yang sedikit kegoberan (karena gue pake punya bokap), dan sandal.
Voila! Hari ini gue bukanlah sekedar MC. Tapi juga sebagai petani yang mau ngerambet si sawah.
Dengan ke polosan dan ke goblok-an gue tentang kostum. Hari ini gue bisa disebut dengan: MC badut diacara syukuran panen.
Dengan kostum yang gue pake, anak-anak justru bukan malah seneng. Tapi tidak sedikit mereka nangis ngeliat gue. Mungkin karena gue terlihat seperti bebegig sawah (muka jelek, badan kurus, kemeja, celana bahan, dan sandal jepit).
'Adek-adek semuanya. Sekarang mulailah kita bermain game tusuk balon.' Gue ngebuka acara dengan langsung ke game dan menjelaskan aturan permainannya.
'Kakak bakal ngasih kalian masing-masing satu jarum.' Gue dengan gaya seorang pesulap 'tapi ingat, jangan di makan ya.'
'Kenapa kakak?' Tanya salah satu anak laki-laki yang duduk dipojok.
'Karena nanti kalian eek jarum' gue jawab sekenanya.
Sehabis jarum dibagikan ke masing-masing bocah ingusan. Musik di play. Dan mereka mengoper benda yang gue kasih. Siapa yang bakal dapetin benda itu saat musik berhenti. Dialah yang harus nusuk balon.
'Ya. Kamu!' Gue nunjuk salah satu anak laki-laki 'kamu yang harus nusuk balon'
Anak itu keliatan sedikit engga waras. Karena dari tadi dia yang paling sibuk ngupil.
Anak itu berdiri. Gue ngulurin balon yang digantung diatas biar bisa diraih si bocah tadi.
SLEB!
Pantat gue ditusuk jarum.
Kampret. Anak sialan.
Seluruh isi ruangan tertawa (kecuali benda mati. Ya masa kursi ketawa, goblok lo!)
Celana yang gue pake adalah bahan. Bukan celana jeans. Dan gue gak pake celana daleman lagi (kecuali kolor). Jadi ada kemungkinan jarum tadi itu menusuk pantat gue dengan kedalaman 5mm.
Sakit rasanya, lumer dimulut. Lah?
Gue dengan muka malu dan menahan rasa sakit. Mempertahankan ekspresi muka agar tetep keliatan cool di depan mereka.
Dengan gaya ke-ibu-an gue bilang 'Adek. Kamu salah. Yang kamu tusuk tadi itu pantat. Bukan balon'
Anak itu malah ketawa cengengesan. Dari senyumnya keliatan banget kalo dia anak jin. 'Dasar anak jin kampret!' Gue jerit dalem hati.
Gue heran sama bocah tadi. Apa dia engga bisa ngebedain yang mana pantat dan yang mana balon.
Atau, apa karena pantat gue mirip balon?
Selesai selebrasi tiup lilin dan potong kue, acara pun selesai.
Gue yang masih agak sedikit sakit dipantat cuma bisa jalan sambil megang pantat.
Gue nelepon Rina.
'Hallo?' Suara diseberang telepon.
'Rin, jadi MC ga seru, ih'
'Hah? Emang lo diapain aja sama bocah-bocah?'
Gue nyeritain apa yang terjadi terhadap pantat gue ini. Yang telah mengalami kesakitan akibat kejahatan yang dilakukan oleh bocah jin tadi.
Emang kampret!
'HAHAHA! LO NYA AJA YANG GOBLOK!' Jawab Rina.
Telepon langsung mati.
Gue langsung mikir. Apa ini rasanya jadi MC? Apa ini yang namanya 'seru' seperti yang diomongin Rina? Atau emang karena gue gak bakat jadi MC?
Semua terjawab oleh 3 kata: Karena Gue Goblok!

1 komentar:

Hahaha. Lucu anjir! Ada yang laen kaga?

Posting Komentar

Terimakasih ingin mengkritik postingan saya.

Kritik dan Saran anda sangat kami butuhkan demi kemajuan situs saya kedepannya.

Masukan nama anda, dan kritiklah!