17.32 -
Cerita Konyol,Cerpen
1 comment
Cerita Konyol,Cerpen
1 comment
MC Ku Sayang, MC Ku Malang
![]() |
| ilustrasi |
'Eh, Bot. Jadi MC itu asik loh!' Rina ngomong dengan serius pada jam istirahat sekolah.
'Bot' adalah nama panggilan gue. Kepanjangan
dari gembrot. Bukan, bukan gembrot. Tapi Ebot. Ya, Ebot. Banyak orang-orang
yang penasaran, kenapa nama asli Febri dipanggil Ebot. Emang engga nyambung. Gue
gak tahu secara pasti apa itu arti dari 'Ebot'.
Setelah gue meditasi di beberapa gunung. Beberapa
teori muncul: 1) Karena gue dulu gembrot. Teori ini salah, karena dari dulu sampe
sekarang gue masih kaya tiang listrik berjalan. 2) Karena gue jelek. Teori ini
benar, karena gue emang dilahirkan dengan muka rusak, body yang tipis tapi agak
sedikit seksi, dan otak yang goblok.
Saat itu, gue kelas 9 SMP. Masa-masa dimana gue
masih pengin ngikutin apa kata orang. Rina adalah temen sekelas gue. Dia duduk
dibelakang bangku gue, waktu itu.
'Emang apa enaknya?' Gue nanya.
'Banyak serunya. Kita bisa bercanda sama audience. Bahkan kalo lo ganteng, lo bakal punya banyak fans'
jelas Rina.
Gue langsung berpikir. Nanti kalo gue jadi MC
beneran. Gue gak bakal punya fans. Itu karena satu hal: gue jelek.
Satu-satunya modal gue adalah muka. Diliat dari
muka aja gue udah jelek (tapi belum tentu dalemannya, loh).
Pas gue nge-MC nanti. Gue bakal bilang,
'selamat malam semuanya!'
'Turun-turun...' seru penonton semua.
Semua pasti kacau kalo gue nge-MC.
'Tapi, gue kan jelek, Rin?' Gue pasrah.
'Kalo itu anak bayi juga tau! Tapi, apa
salahnya dicoba?'
'Uuh' gue gak bisa jawab.
'Lo harus coba!'
'Iya'
'Lo harus coba!'
'Iye'
'Lo harus coba, goblok!'
'Iyeeeee!'
***
Selang beberapa bulan. Sepupu gue mau ulang
tahun. Umurnya gak tua-tua amat, sih. Tahun ini adalah ke-5 tahun.
'Kamu jadi MC di ulang tahun Rio, yak!' Seru
Tante gue.
'Uuh. Aku kan gak bisa nge-MC, Tan'
'Udah. Gak apa-apa. Dicoba dulu'
Gue pasrah.
Gue cuma bisa mencoba. Tiba-tiba gue keinget
omongan Rina beberapa bulan yang lalu. 'Gue emang harus coba!' Seru gue dalem
hati.
Beberapa hari menuju ke acara. Gue jadi sering
latihan di kamar. Biasanya gue latihan di depan kaca sambil berdiri dengan
membawa selembar kertas seperti MC di tv-tv. Gue lebih menekan ke latihan ngomong.
Dari mulai kata-kata yang sederhana 'Hallo
adek-adek. Mari kita bernyanyi selamat ulang tahun untuk Rio' sampe yang
bergaya host di Silet. 'Anak-anak! Ayo kita bernyanyi dan kupas si Rio secara
tajam. Setajam....... bedog!'
Shit! Gue emang gak
bakat jadi MC.
Setelah gue latihan cara ngomong. Gue mikirin
kostum. Ya, ini yang menurut gue bagian tersulit. Gue harus bergaya seperti apa
nanti.
Gue coba telepon Ina, temen gue yang ahli
tentang fashion.
'Ina,
gue mau jadi MC. Tapi gue ga tau harus pake baju apaan' gue cemas.
'Hah?
Lo MC? Sejak kapan?' Jawab Ina, diseberang telepon.
'Udah
deh. Sejak tadi' jawab gue singkat.
'MC
dimana lo? Di acara festival? Pagelaran seni? Gue nonton dong!'
'Di
acara ulang tahun sepupu gue ke- 5 tahun'
Gubrak! Ina diem.
Beberapa
detik, Ina ngomong 'Goblok! Gue kira acara besar. Taunya cuma.......' Ina
berenti ngomong.
'Oke,oke.
Gue harus pake baju apa di acara itu?' gue samber omongannya.
'Lo
pake baju badut!'
'HAH?'
Tut....Tut....Tut....
Telepon mati.
Gue coba telepon lagi si Ina. Tapi malah engga
dijawab.
***
Beberapa hari kemudian. Acara yang
dinanti-nanti pun dimulai. Gue jadi MC yang pertama dan (mungkin) yang terakhir
dalam sejarah hidup gue.
Karena engga yakin sama omongan Ina di telepon
beberapa hari yang lalu. Gue yakinkan untuk tidak memakai kostum badut. Selain
karena repot dan biaya nyewa mahal. Juga
karena gue udah punya muka kaya badut.
Hari ini gue pake kemeja kotak-kotak bergaris
hitam, celana item bahan yang sedikit kegoberan (karena gue pake punya bokap),
dan sandal.
Voila! Hari ini gue bukanlah
sekedar MC. Tapi juga sebagai petani yang mau ngerambet si sawah.
Dengan ke polosan dan ke goblok-an gue tentang
kostum. Hari ini gue bisa disebut dengan: MC badut diacara syukuran panen.
Dengan kostum yang gue pake, anak-anak justru
bukan malah seneng. Tapi tidak sedikit mereka nangis ngeliat gue. Mungkin
karena gue terlihat seperti bebegig sawah
(muka jelek, badan kurus, kemeja, celana bahan, dan sandal jepit).
'Adek-adek semuanya. Sekarang mulailah kita
bermain game tusuk balon.' Gue
ngebuka acara dengan langsung ke game
dan menjelaskan aturan permainannya.
'Kakak bakal ngasih kalian masing-masing satu
jarum.' Gue dengan gaya seorang pesulap 'tapi ingat, jangan di makan ya.'
'Kenapa kakak?' Tanya salah satu anak laki-laki
yang duduk dipojok.
'Karena nanti kalian eek jarum' gue jawab
sekenanya.
Sehabis jarum dibagikan ke masing-masing bocah
ingusan. Musik di play. Dan mereka
mengoper benda yang gue kasih. Siapa yang bakal dapetin benda itu saat musik
berhenti. Dialah yang harus nusuk balon.
'Ya. Kamu!' Gue nunjuk salah satu anak
laki-laki 'kamu yang harus nusuk balon'
Anak itu keliatan sedikit engga waras. Karena
dari tadi dia yang paling sibuk ngupil.
Anak itu berdiri. Gue ngulurin balon yang
digantung diatas biar bisa diraih si bocah tadi.
SLEB!
Pantat gue ditusuk jarum.
Kampret. Anak sialan.
Seluruh isi ruangan tertawa (kecuali benda
mati. Ya masa kursi ketawa, goblok lo!)
Celana yang gue pake adalah bahan. Bukan celana
jeans. Dan gue gak pake celana
daleman lagi (kecuali kolor). Jadi ada kemungkinan jarum tadi itu menusuk
pantat gue dengan kedalaman 5mm.
Sakit rasanya, lumer dimulut. Lah?
Gue dengan muka malu dan menahan rasa sakit. Mempertahankan
ekspresi muka agar tetep keliatan cool
di depan mereka.
Dengan gaya ke-ibu-an gue bilang 'Adek. Kamu
salah. Yang kamu tusuk tadi itu pantat. Bukan balon'
Anak itu malah ketawa cengengesan. Dari
senyumnya keliatan banget kalo dia anak jin. 'Dasar anak jin kampret!' Gue
jerit dalem hati.
Gue heran sama bocah tadi. Apa dia engga bisa
ngebedain yang mana pantat dan yang mana balon.
Atau, apa karena pantat gue mirip balon?
Selesai selebrasi tiup lilin dan potong kue,
acara pun selesai.
Gue yang masih agak sedikit sakit dipantat cuma
bisa jalan sambil megang pantat.
Gue nelepon Rina.
'Hallo?' Suara diseberang telepon.
'Rin, jadi MC ga seru, ih'
'Hah? Emang lo diapain aja sama bocah-bocah?'
Gue nyeritain apa yang terjadi terhadap pantat
gue ini. Yang telah mengalami kesakitan akibat kejahatan yang dilakukan oleh
bocah jin tadi.
Emang kampret!
'HAHAHA! LO NYA AJA YANG GOBLOK!' Jawab Rina.
Telepon langsung mati.
Gue langsung mikir. Apa ini rasanya jadi MC?
Apa ini yang namanya 'seru' seperti yang diomongin Rina? Atau emang karena gue
gak bakat jadi MC?
Semua terjawab oleh 3 kata: Karena Gue Goblok!

1 komentar:
Hahaha. Lucu anjir! Ada yang laen kaga?
Posting Komentar
Terimakasih ingin mengkritik postingan saya.
Kritik dan Saran anda sangat kami butuhkan demi kemajuan situs saya kedepannya.
Masukan nama anda, dan kritiklah!